Sabtu, 14 September 2013
KISAH 'AKU' DAN SEUNTAI KALUNG PERMATA ..
Bismillahir-Rahmaanir-Rahi m
... Al-Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi bin Muhammad Al-Bazzar
Al-Anshari berkata: “Dulu, aku pernah berada di Makkah (semoga Allah
Subhanahu wa Ta’ala selalu menjaganya), suatu hari aku merasakan lapar
yang sangat. Aku tidak mendapatkan sesuatu yang dapat menghilangkan
laparku.
Tiba-tiba aku menemukan sebuah kantong dari sutera yang diikat dengan kaos kaki yang terbuat dari sutera pula. Aku memungutnya dan membawanya pulang ke rumah. Ketika aku buka, aku dapatkan didalamnya sebuah kalung permata yang tak pernah aku lihat sebelumnya.
Aku lalu keluar dari rumah, dan saat itu ada seorang bapak tua yang berteriak mencari kantongnya yang hilang sambil memegang kantong kain yang berisi uang lima ratus dinar. Dia mengatakan, ‘Ini adalah bagi orang yang mau mengembalikan kantong sutera yang berisi permata’.
Aku berkata pada diriku, ‘Aku sedang membutuhkan, aku ini sedang lapar. Aku bisa mengambil uang dinar emas itu untuk aku manfaatkan dan mengembalikan kantong sutera ini padanya’. Maka aku berkata pada bapak tua itu, ‘Hai, kemarilah’. Lalu aku membawanya ke rumahku.
Setibanya di rumah, dia menceritakan padaku ciri kantong sutera itu, ciri-ciri kaos kaki pengikatnya, ciri-ciri permata dan jumlahnya berikut benang yang mengikatnya.
Maka aku mengeluarkan dan memberikan kantong itu kepadanya dan dia pun memberikan untukku lima ratus dinar, tetapi aku tidak mau mengambilnya.
Aku katakan padanya, ‘Memang seharusnya aku mengembalikannya kepadamu tanpa mengambil upah untuk itu’. Ternyata dia bersikeras, ‘Kau harus mau menerimanya’, sambil memaksaku terus-menerus. Aku tetap pada pendirianku, tak mau menerima.
Akhirnya bapak tua itu pun pergi meninggalkanku. Adapun aku, beberapa waktu setelah kejadian itu aku keluar dari kota Makkah dan berlayar dengan perahu. Di tengah laut, perahu tumpangan itu pecah, orang-orang semua tenggelam dengan harta benda mereka.
Tetapi aku selamat, dengan menumpang potongan papan dari pecahan perahu itu. Untuk beberapa waktu aku tetap berada di laut, tak tahu ke mana hendak pergi!
Akhirnya aku tiba di sebuah pulau yang berpenduduk. Aku duduk di salah satu masjid mereka sambil membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Ketika mereka tahu bagaimana aku membacanya, tak seorang pun dari penduduk pulau tersebut kecuali dia datang kepadaku dan mengatakan, ‘Ajarkanlah Al-Qur’an kepadaku’. Aku penuhi permintaan mereka. Dari mereka aku mendapat harta yang banyak.
Di dalam masjid, aku menemukan beberapa lembar dari mushaf, aku mengambil dan mulai membacanya. Lalu mereka bertanya, ‘Kau bisa menulis?’, aku jawab, ‘Ya’.
Mereka berkata, ‘Kalau begitu, ajarilah kami menulis’. Mereka pun datang dengan anak-anak juga dan para remaja mereka. Aku ajari mereka tulis-menulis. Dari itu juga aku mendapat banyak uang.
Setelah itu mereka berkata, ‘Kami mempunyai seorang puteri yatim, dia mempunyai harta yang cukup. Maukah kau menikahinya?’ Aku menolak. Tetapi mereka terus mendesak, ‘Tidak bisa, kau harus mau’.
Akhirnya aku menuruti keinginan mereka juga. Ketika mereka membawa anak perempuan itu kehadapanku, aku pandangi dia. Tiba-tiba aku melihat kalung permata yang dulu pernah aku temukan di Makkah melingkar di lehernya.
Tak ada yang aku lakukan saat itu kecuali hanya terus memperhatikan kalung permata itu. Mereka berkata, ‘Sungguh, kau telah menghancurkan hati perempuan yatim ini. Kau hanya memperhatikan kalung itu dan tidak memperhatikan orangnya’.
Maka saya ceritakan kepada mereka kisah saya dengan kalung tersebut. Setelah mereka tahu, mereka meneriakkan tahlil dan takbir hingga terdengar oleh penduduk setempat. ‘Ada apa dengan kalian?’, kataku bertanya.
Mereka menjawab, ‘Tahukah engkau, bahwa orang tua yang mengambil kalung itu darimu saat itu adalah ayah anak perempuan ini’. Dia pernah mengatakan, ‘Aku tidak pernah mendapatkan seorang muslim di dunia ini (sebaik) orang yang telah mengembalikan kalung ini kepadaku’.
Dia juga berdoa, ‘Ya Allah, pertemukanlah aku dengan orang itu hingga aku dapat menikahkannya dengan puteriku’, dan sekarang sudah menjadi kenyataan’.
Aku mulai mengarungi kehidupan bersamanya dan kami dikaruniai dua orang anak. Kemudian isteriku meninggal dan kalung permata menjadi harta pusaka untukku dan untuk kedua anakku.
Tetapi kedua anakku itu meninggal juga, hingga kalung permata itu jatuh ke tanganku. Lalu aku menjualnya seharga seratus ribu dinar. Dan harta yang kalian lihat ada padaku sekarang ini adalah sisa dari uang 100 ribu dinar itu.”
Tiba-tiba aku menemukan sebuah kantong dari sutera yang diikat dengan kaos kaki yang terbuat dari sutera pula. Aku memungutnya dan membawanya pulang ke rumah. Ketika aku buka, aku dapatkan didalamnya sebuah kalung permata yang tak pernah aku lihat sebelumnya.
Aku lalu keluar dari rumah, dan saat itu ada seorang bapak tua yang berteriak mencari kantongnya yang hilang sambil memegang kantong kain yang berisi uang lima ratus dinar. Dia mengatakan, ‘Ini adalah bagi orang yang mau mengembalikan kantong sutera yang berisi permata’.
Aku berkata pada diriku, ‘Aku sedang membutuhkan, aku ini sedang lapar. Aku bisa mengambil uang dinar emas itu untuk aku manfaatkan dan mengembalikan kantong sutera ini padanya’. Maka aku berkata pada bapak tua itu, ‘Hai, kemarilah’. Lalu aku membawanya ke rumahku.
Setibanya di rumah, dia menceritakan padaku ciri kantong sutera itu, ciri-ciri kaos kaki pengikatnya, ciri-ciri permata dan jumlahnya berikut benang yang mengikatnya.
Maka aku mengeluarkan dan memberikan kantong itu kepadanya dan dia pun memberikan untukku lima ratus dinar, tetapi aku tidak mau mengambilnya.
Aku katakan padanya, ‘Memang seharusnya aku mengembalikannya kepadamu tanpa mengambil upah untuk itu’. Ternyata dia bersikeras, ‘Kau harus mau menerimanya’, sambil memaksaku terus-menerus. Aku tetap pada pendirianku, tak mau menerima.
Akhirnya bapak tua itu pun pergi meninggalkanku. Adapun aku, beberapa waktu setelah kejadian itu aku keluar dari kota Makkah dan berlayar dengan perahu. Di tengah laut, perahu tumpangan itu pecah, orang-orang semua tenggelam dengan harta benda mereka.
Tetapi aku selamat, dengan menumpang potongan papan dari pecahan perahu itu. Untuk beberapa waktu aku tetap berada di laut, tak tahu ke mana hendak pergi!
Akhirnya aku tiba di sebuah pulau yang berpenduduk. Aku duduk di salah satu masjid mereka sambil membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Ketika mereka tahu bagaimana aku membacanya, tak seorang pun dari penduduk pulau tersebut kecuali dia datang kepadaku dan mengatakan, ‘Ajarkanlah Al-Qur’an kepadaku’. Aku penuhi permintaan mereka. Dari mereka aku mendapat harta yang banyak.
Di dalam masjid, aku menemukan beberapa lembar dari mushaf, aku mengambil dan mulai membacanya. Lalu mereka bertanya, ‘Kau bisa menulis?’, aku jawab, ‘Ya’.
Mereka berkata, ‘Kalau begitu, ajarilah kami menulis’. Mereka pun datang dengan anak-anak juga dan para remaja mereka. Aku ajari mereka tulis-menulis. Dari itu juga aku mendapat banyak uang.
Setelah itu mereka berkata, ‘Kami mempunyai seorang puteri yatim, dia mempunyai harta yang cukup. Maukah kau menikahinya?’ Aku menolak. Tetapi mereka terus mendesak, ‘Tidak bisa, kau harus mau’.
Akhirnya aku menuruti keinginan mereka juga. Ketika mereka membawa anak perempuan itu kehadapanku, aku pandangi dia. Tiba-tiba aku melihat kalung permata yang dulu pernah aku temukan di Makkah melingkar di lehernya.
Tak ada yang aku lakukan saat itu kecuali hanya terus memperhatikan kalung permata itu. Mereka berkata, ‘Sungguh, kau telah menghancurkan hati perempuan yatim ini. Kau hanya memperhatikan kalung itu dan tidak memperhatikan orangnya’.
Maka saya ceritakan kepada mereka kisah saya dengan kalung tersebut. Setelah mereka tahu, mereka meneriakkan tahlil dan takbir hingga terdengar oleh penduduk setempat. ‘Ada apa dengan kalian?’, kataku bertanya.
Mereka menjawab, ‘Tahukah engkau, bahwa orang tua yang mengambil kalung itu darimu saat itu adalah ayah anak perempuan ini’. Dia pernah mengatakan, ‘Aku tidak pernah mendapatkan seorang muslim di dunia ini (sebaik) orang yang telah mengembalikan kalung ini kepadaku’.
Dia juga berdoa, ‘Ya Allah, pertemukanlah aku dengan orang itu hingga aku dapat menikahkannya dengan puteriku’, dan sekarang sudah menjadi kenyataan’.
Aku mulai mengarungi kehidupan bersamanya dan kami dikaruniai dua orang anak. Kemudian isteriku meninggal dan kalung permata menjadi harta pusaka untukku dan untuk kedua anakku.
Tetapi kedua anakku itu meninggal juga, hingga kalung permata itu jatuh ke tanganku. Lalu aku menjualnya seharga seratus ribu dinar. Dan harta yang kalian lihat ada padaku sekarang ini adalah sisa dari uang 100 ribu dinar itu.”
DIKALA RAGU AKAN DIRINYA
Ya Allah…
Seandainya telah Engkau catatkan dia akan mejadi teman menapaki hidup
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi.
Dan ya Allah… ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
Ke tepian yang sejahtera dan abadi
Tetapi ya Allah…
Seandainya telah Engkau takdirkan…Dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku
Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku
Dan peliharalah aku dari kekecewaan
Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti…
Berikanlah aku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada langit
Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya
Dan ya Allah yang tercinta…
Gantikanlah yang telah hilang
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
Walaupun tidak sama dengan dirinya….
Ya Allah ya Tuhanku…
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik buatku
Karena Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hambaMu ini
Ya Allah…
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
Di dunia dan di akhirat
Dengarlah rintihan dari hambaMu yang daif ini
Jangan Engkau biarkan aku sendirian
Di dunia ini maupun di akhirat
Menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran
Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman
Supaya aku dan dia dapat membina kesejahteraan hidup
Ke jalan yang Engkau ridhai
Dan kurniakanlah padaku keturunan yang soleh
Aamin… Ya Rabbal ‘Aalamin
Minggu, 01 September 2013
5 pola pikir orang sukses
PERNAHKAH Anda berpikir, mengapa sebagian orang ditakdirkan menjalani
hidup penuh kesuksesan sedangkan yang lainnya tidak? Sukses bukan hanya
tentang tingkat pendidikan seseorang, melainkan juga pola pikir yang
dia terapkan.

Orang sukses bukan hanya berperilaku berbeda, mereka juga berpikir dengan cara yang berbeda.
1. Agenda ganda
Orang biasa cenderung berinteraksi dengan berfokus hanya pada tujuan-tujuan pribadi mereka. Orang sukses, di sisi lain, berinteraksi dengan berfokus bukan hanya pada tujuan pribadinya, melainkan juga dengan tujuan orang lain. Itu sebabnya, orang sukses dapat menciptakan hubungan yang lebih baik dan mengumpulkan lebih banyak dukungan dalam hampir segala hal yang mereka lakukan.
2. Ketidakpastian
Orang biasa selalu ingin segala hal berjalan sesuai keinginannya, entah itu dalam rapat direksi sampai reuni keluarga. Mereka menjadi cemas dalam menghadapi perubahan dan ketidakpastian. Sementara itu, orang sukses lebih percaya diri. Mereka tahu bahwa mereka pada akhirnya akan mampu menangani situasi apa pun yang terhadi, dan tidak terikat untuk memainkannya sesuai skenario tertentu. Hal ini membuat mereka terlihat lebih tenang, menyenangkan, dan menarik saat bergaul.
3. Berpikir mundur
Dalam hidup, banyak orang memikirkan berbagai masalah dan tujuannya, serta berpikir bagaimana pasangan, atasan, orangtua, atau rekan kerja dapat membantu mereka memecahkan atau mencapainya. Sebaliknya, orang sukses memikirkan pasangan, rekan kerja, orangtua atau atasannya dan memikirkan cara agar dapat membantu mereka.
4. Definisi sukses
Banyak orang cenderung melihat orang di sekitarnya sebagai penolong atau hambatan. Sementara itu, orang sukses memiliki definisi yang berbeda tentang keberhasilan. Orang lain bukan hanya berari sarana bagi mereka untuk mencapai tujuan, melainkan tujuan itu sendiri. Mereka ingin menciptakan sukses bagi semua orang.
5. Sepenuh hati
Rata-rata orang mungkin menghabiskan hidupnya dengan khawatir terhadap berbagai hal, atau apakah sesuatu berjalan sesuai yang mereka inginkan. Rasa takut yang terpendam ini menciptakan dinding emosional antara diri mereka dengan setiap orang yang mereka temui. Di sisi lain, orang sukses tidak memiliki penghalang seperti itu. Mereka tidak terganggu dengan kecemasan yang tak terucapkan, sehingga mampu menjalani hidup dengan sepenuh hati dan jiwa
Orang sukses bukan hanya berperilaku berbeda, mereka juga berpikir dengan cara yang berbeda.
1. Agenda ganda
Orang biasa cenderung berinteraksi dengan berfokus hanya pada tujuan-tujuan pribadi mereka. Orang sukses, di sisi lain, berinteraksi dengan berfokus bukan hanya pada tujuan pribadinya, melainkan juga dengan tujuan orang lain. Itu sebabnya, orang sukses dapat menciptakan hubungan yang lebih baik dan mengumpulkan lebih banyak dukungan dalam hampir segala hal yang mereka lakukan.
2. Ketidakpastian
Orang biasa selalu ingin segala hal berjalan sesuai keinginannya, entah itu dalam rapat direksi sampai reuni keluarga. Mereka menjadi cemas dalam menghadapi perubahan dan ketidakpastian. Sementara itu, orang sukses lebih percaya diri. Mereka tahu bahwa mereka pada akhirnya akan mampu menangani situasi apa pun yang terhadi, dan tidak terikat untuk memainkannya sesuai skenario tertentu. Hal ini membuat mereka terlihat lebih tenang, menyenangkan, dan menarik saat bergaul.
3. Berpikir mundur
Dalam hidup, banyak orang memikirkan berbagai masalah dan tujuannya, serta berpikir bagaimana pasangan, atasan, orangtua, atau rekan kerja dapat membantu mereka memecahkan atau mencapainya. Sebaliknya, orang sukses memikirkan pasangan, rekan kerja, orangtua atau atasannya dan memikirkan cara agar dapat membantu mereka.
4. Definisi sukses
Banyak orang cenderung melihat orang di sekitarnya sebagai penolong atau hambatan. Sementara itu, orang sukses memiliki definisi yang berbeda tentang keberhasilan. Orang lain bukan hanya berari sarana bagi mereka untuk mencapai tujuan, melainkan tujuan itu sendiri. Mereka ingin menciptakan sukses bagi semua orang.
5. Sepenuh hati
Rata-rata orang mungkin menghabiskan hidupnya dengan khawatir terhadap berbagai hal, atau apakah sesuatu berjalan sesuai yang mereka inginkan. Rasa takut yang terpendam ini menciptakan dinding emosional antara diri mereka dengan setiap orang yang mereka temui. Di sisi lain, orang sukses tidak memiliki penghalang seperti itu. Mereka tidak terganggu dengan kecemasan yang tak terucapkan, sehingga mampu menjalani hidup dengan sepenuh hati dan jiwa
Senin, 19 Agustus 2013
Aqiqah Setelah Usia Dewasa
Sunday, April 11, 2010
| Author:
Oleh: Ustadz Drs. Andiono MahdiAnggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya
“Rasulullah s.a.w. Meng-Aqiqahi dirinya sendiri setelah diutus sebagai Nabi”.
[HR. Abdur Razaq dalam Musnafnya juz IV : 324]
PENJELASAN SANAD DAN MATAN HADITS
Dalam susunan/rangkaian Sanad hadits tersebut ada seorang rawi yang bernama “ Abdullah bin Muharrar Al Jazri ” yang dikatakan “Matrukul Hadits” (ditinggalkan haditsnya) oleh Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Ad Daruquthni.
Imam Bukhari dan Abu Hatim berkata Abdullah bin Muharrar “ Munkarul Hadits” (Diingkari Haditsnya),Imam An Nasa’i menyebutnya Laisa bi Tsiqah (tidak kuat). Bahkan Imam Ibnu Hibban mengatakan dia (Abdullah bin Muharrar) pernah berdusta.
Hadits ini sangat lemah bahkan ada Ulama yang mengatakan Maudhu’ (palsu) ini jelas tidak boleh dijadikan Hujjah. Sehingga tidak bisa dijadikan dasar seseorang di- Aqiqahi setelah dewasa.
Adapun pelaksanaan Aqiqah pada hari ke-14 atau ke-21 yang berdasarkan hadits :
Rasulullah saw bersabda: “ Aqiqah itu dilaksanakan pada hari ke-7 atau ke-14 atau ke-21”.
[HR. Ath Thabrani dalam Mu’jamush Shaghir 1:256, Mu’jamul Ausath : 4879, HR. Al Baihaqi dalam Sunanul Kubra 9 : 303]
Dalam Rangkaian sanad hadits ini (baik riwayat Baihaqi maupun Thabrani) ada seorang rawi yang bernama “ Ismail bin Muslim Al Bashri ” yang banyak mendapat kritikan dari ulama-ulama Hadits.
Imam Abu Zur’ah mengatakan : Dha’if (lemah), Imam Ahmad menyebutnya “ Munkarul Hadits ”. Imam An Nasa’i berkata “ Matruk ” (haditsnya ditinggalkan). Imam Ibnu Ma’in mengkomentari “ Laisa bi Syai’in ” (tidak dianggap). Baca Mizanul I’tidal 1 hal. 249.
Berkata Al Falas “ Ismail bin Muslim” “ Dhaifal fil Hadits ” (lemah dalam hadits). Imam Bukhari berkata Yahya bin Ma’in dan Ibnu Mahdi meninggalkan haditsnya.
Dengan komentar ulama-ulama hadits tersebut maka jelas kedudukan hadits tersebut “ Dha’if Laisa bi Hujjah” (lemah tak boleh dijadikan Hujjah).
Sedangkan Hadits yang SHAHIH berkenaan dengan waktu pelaksanaan Aqiqah adalah seperti berikut:
“Setiap anak Tergadai dengan Aqiqah-nya, disembelihkan atasnya pada hari ke-7, dicukur rambutnya dan diberikan Nama ”.
[HR. Abu Dawud No. 2838, Hr. At tirmidzi No. 1522, HR. Ibnu Majah No. 3165, serta Hadits An Nasa’i No. 4231, Sunanul Kubra Al baihaqi]
KESIMPULAN
Waktu Pelaksanaan Aqiqah hanya pada hari ke-7 (tujuh), tidak pada hari ke-14 atau ke-21, apalagi setelah usia Dewasa.
Dialog Di Tanah Suci
Sidi ‘Alwi Al-Maliki
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin–ulama Wahhabi kontemporer di Saudi Arabia yang sangat populer dan kharismatik-, mempunyai seorang guru yang sangat alim dan kharismatik di kalangan kaum Wahhabi, yaitu Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di. Ia dikenal dengan julukan Syaikh Ibnu Sa’di. Ia memiliki banyak karangan, di antaranya yang paling populer adalah karyanya yang berjudul, Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, kitab tafsir setebal 5 jilid, yang mengikuti paradigma pemikiran Wahhabi. Tafsir ini di kalangan Wahhabi menyamai kedudukan Tafsir al-Jalalain di kalangan kaum Sunni.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin–ulama Wahhabi kontemporer di Saudi Arabia yang sangat populer dan kharismatik-, mempunyai seorang guru yang sangat alim dan kharismatik di kalangan kaum Wahhabi, yaitu Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di. Ia dikenal dengan julukan Syaikh Ibnu Sa’di. Ia memiliki banyak karangan, di antaranya yang paling populer adalah karyanya yang berjudul, Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, kitab tafsir setebal 5 jilid, yang mengikuti paradigma pemikiran Wahhabi. Tafsir ini di kalangan Wahhabi menyamai kedudukan Tafsir al-Jalalain di kalangan kaum Sunni.
Syaikh Ibnu Sa’di
dikenal sebagai ulama Wahhabi yang ekstrem. Namun demikian, terkadang ia
mudah insyaf dan mau mengikuti kebenaran, dari manapun kebenaran itu
datangnya.
Suatu ketika, al-Imam
al-Sayyid ‘Alwi bin Abbas al-Maliki al-Hasani (ayahanda al-Sayyid
Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki) sedang duduk-duduk di serambi Masjidil
Haram bersama murid-muridnya dalam halaqah pengajiannya. Di bagian lain
serambi Masjidil Haram tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di juga duduk-duduk
bersama anak buahnya. Sementara orang-orang di Masjidil Haram sedang
larut dalam ibadah. Ada yang shalat dan ada pula yang thawaf. Pada saat
itu, langit di atas Masjidil Haram diselimuti mendung tebal yang
menggelantung. Sepertinya sebentar lagi hujan lebat akan segera
mengguyur tanah suci umat Islam itu.
Tiba-tiba air hujan
itu pun turun dengan lebatnya. Akibatnya, saluran air di atas Ka’bah
mengalirkan air hujan itu dengan derasnya. Melihat air begitu deras dari
saluran air di atas kiblat kaum Muslimin yang berbentuk kubus itu,
orang-orang Hijaz seperti kebiasaan mereka, segera berhamburan menuju
saluran itu dan mengambil air tersebut. Air itu mereka tuangkan ke baju
dan tubuh mereka, dengan harapan mendapatkan berkah dari air itu.
Melihat kejadian
tersebut, para polisi pamong praja Kerajaan Saudi Arabia, yang sebagian
besar berasal dari orang Baduwi daerah Najd itu, menjadi terkejut dan
mengira bahwa orang-orang Hijaz tersebut telah terjerumus dalam lumpur
kesyirikan dan menyembah selain Allah subhanahu wa ta’ala dengan ngalap
barokah dari air itu. Akhirnya para polisi pamong praja itu menghampiri
kerumunan orang-orang Hijaz dan berkata kepada mereka yang sedang
mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air Ka’bah itu,
“Hai orang-orang musyrik, jangan lakukan itu. Itu perbuatan syirik. Itu
perbuatan syirik. Hentikan!” Demikian teguran keras para polisi pamong
praja kerajaan Wahhabi itu.
Mendengar teguran
para polisi pamong praja itu, orang-orang Hijaz itu pun segera
membubarkan diri dan pergi menuju Sayyid ‘Alwi yang sedang mengajar
murid-muridnya di halaqah tempat beliau mengajar secara rutin. Kepada
beliau, mereka menanyakan perihal hukum mengambil berkah dari air hujan
yang mengalir dari saluran air di Ka’bah itu. Ternyata Sayyid ‘Alwi
membolehkan dan bahkan mendorong mereka untuk terus melakukannya.
Talang Emas Multazam
Menerima fatwa Sayyid ‘Alwi yang melegitimasi perbuatan mereka, akhirnya untuk yang kedua kalinya, orang-orang Hijaz itu pun berhamburan lagi menuju saluran air di Ka’bah itu, dengan tujuan mengambil berkah air hujan yang jatuh darinya, tanpa mengindahkan teguran para polisi Baduwi tersebut. Bahkan ketika para polisi Baduwi itu menegur mereka untuk yang kedua kalinya, orang-orang Hijaz itu menjawab, “Kami tidak peduli teguran Anda, setelah Sayyid ‘Alwi berfatwa kepada kami tentang kebolehan mengambil berkah dari air ini.”
Menerima fatwa Sayyid ‘Alwi yang melegitimasi perbuatan mereka, akhirnya untuk yang kedua kalinya, orang-orang Hijaz itu pun berhamburan lagi menuju saluran air di Ka’bah itu, dengan tujuan mengambil berkah air hujan yang jatuh darinya, tanpa mengindahkan teguran para polisi Baduwi tersebut. Bahkan ketika para polisi Baduwi itu menegur mereka untuk yang kedua kalinya, orang-orang Hijaz itu menjawab, “Kami tidak peduli teguran Anda, setelah Sayyid ‘Alwi berfatwa kepada kami tentang kebolehan mengambil berkah dari air ini.”
Akhirnya, melihat
orang-orang Hijaz itu tidak mengindahkan teguran, para polisi Baduwi itu
pun segera mendatangi halaqah Syaikh Ibnu Sa’di, guru mereka. Mereka
mengadukan perihal fatwa Sayyid ‘Alwi yang menganggap bahwa air hujan
itu ada berkahnya. Akhirnya, setelah mendengar laporan para polisi
Baduwi, yang merupakan anak buahnya itu, Syaikh Ibnu Sa’di segera
mengambil selendangnya dan bangkit berjalan menghampiri halaqah Sayyid
‘Alwi. Kemudian dengan perlahan Syaikh Ibn Sa’di itu duduk di sebelah
Sayyid ‘Alwi. Sementara orang-orang dari berbagai golongan, berkumpul
mengelilingi kedua ulama besar itu. Mereka menunggu-nunggu, apa yang
akan dibicarakan oleh dua ulama besar itu.
Dengan penuh sopan
santun dan etika layaknya seorang ulama besar, Syaikh Ibnu Sa’di
bertanya kepada Sayyid ‘Alwi: “Wahai Sayyid, benarkah Anda berkata
kepada orang-orang itu bahwa air hujan yang turun dari saluran air di
Ka’bah itu ada berkahnya?”
Mendengar pertanyaan Syaikh Ibn Sa’di, Sayyid ‘Alwi menjawab: “Benar. Bahkan air tersebut memiliki dua berkah.”
Mendengar jawaban tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di terkejut dan berkata: “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”
Sayyid ‘Alwi menjawab: “Karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya tentang air hujan:
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَاركَاً (ق: ٩
“Dan Kami turunkan dari langit air yang mengandung berkah.” (QS. 50 : 9).
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَاركَاً (ق: ٩
“Dan Kami turunkan dari langit air yang mengandung berkah.” (QS. 50 : 9).
Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman mengenai Ka’bah:
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبَارَكًا (آل عمران: ٩٦
“Sesungguhnya rumah yang pertama kali diletakkan bagi umat manusia adalah rumah yang ada di Bekkah (Makkah), yang diberkahi (oleh Allah).” (QS. 3 : 96).
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبَارَكًا (آل عمران: ٩٦
“Sesungguhnya rumah yang pertama kali diletakkan bagi umat manusia adalah rumah yang ada di Bekkah (Makkah), yang diberkahi (oleh Allah).” (QS. 3 : 96).
Dengan demikian air
hujan yang turun dari saluran air di atas Ka’bah itu memiliki dua
berkah, yaitu berkah yang turun dari langit dan berkah yang terdapat
pada Baitullah ini.”
Mendengar jawaban
tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di merasa heran dan kagum kepada Sayyid ‘Alwi.
Kemudian dengan penuh kesadaran, mulut Syaikh Ibnu Sa’di itu melontarkan
perkataan yang sangat mulia, sebagai pengakuannya akan kebenaran ucapan
Sayyid ‘Alwi: “Subhanallah (Maha Suci Allah), bagaimana kami bisa lalai
dari kedua ayat ini.”
Kemudian Syaikh Ibnu
Sa’di mengucapkan terima kasih kepada Sayyid ‘Alwi dan meminta izin
untuk meninggalkan halaqah tersebut. Namun Sayyid ‘Alwi berkata kepada
Syaikh Ibnu Sa’di: “Tenang dulu wahai Syaikh Ibnu Sa’di. Aku melihat
para polisi baduwi itu mengira bahwa apa yang dilakukan oleh kaum
Muslimin dengan mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran
air di Ka’bah itu sebagai perbuatan syirik. Mereka tidak akan berhenti
mengkafirkan dan mensyirikkan orang dalam masalah ini sebelum mereka
melihat orang seperti Anda melarang mereka. Oleh karena itu, sekarang
bangkitlah Anda menuju saluran air di Ka’bah itu. Lalu ambillah air di
situ di depan para polisi Baduwi itu, sehingga mereka akan berhenti
mensyirikkan orang lain.”
Akhirnya mendengar
saran Sayyid ‘Alwi, Syaikh Ibnu Sa’di segera bangkit menuju saluran air
di Ka’bah. Ia basahi pakaiannya dengan air itu, dan ia pun mengambil air
itu untuk diminumnya dengan tujuan mengambil berkahnya. Melihat
tindakan Syaikh Ibnu Sa’di ini, para polisi Baduwi itu pun akhirnya
pergi meninggalkan Masjidil Haram dengan perasaan malu.
Kisah ini disebutkan
oleh Syaikh Abdul Fattah Rawwah, dalam kitab Tsabat (kumpulan
sanad-sanad keilmuannya). Beliau murid Sayyid ‘Alwi al-Maliki dan
termasuk salah seorang saksi mata kejadian itu.
Syaikh Abdurrahman Ibnu Sa’di
Syaikh Ibn Sa’di sebenarnya seorang yang sangat alim. Ia pakar dalam bidang tafsir. Apabila berbicara tafsir, ia mampu menguraikan makna dan maksud ayat al-Qur’an dari berbagai aspeknya di luar kepala dengan bahasa yang sangat bagus dan mudah dimengerti. Akan tetapi sayang, ideologi Wahhabi yang diikutinya berpengaruh terhadap paradigma pemikiran beliau. Aroma Wahhabi sangat kental dengan tafsir yang ditulisnya.
Syaikh Ibn Sa’di sebenarnya seorang yang sangat alim. Ia pakar dalam bidang tafsir. Apabila berbicara tafsir, ia mampu menguraikan makna dan maksud ayat al-Qur’an dari berbagai aspeknya di luar kepala dengan bahasa yang sangat bagus dan mudah dimengerti. Akan tetapi sayang, ideologi Wahhabi yang diikutinya berpengaruh terhadap paradigma pemikiran beliau. Aroma Wahhabi sangat kental dengan tafsir yang ditulisnya.
Dikutip oleh: Ust. M.
Luqman Firmansyah dari “Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi” , karangan
Ust. Muhammad Idrus Ramli, Penerbit Bina Aswaja bekerjasama dengan LBM
NU Jember, Cetakan Pertama September 2010.
Rabu, 14 Agustus 2013
Kisah Empat Nabi Yang Masih Hidup Sampai Sekarang
-
Kisah Nabi Isa Alaihissalam
Al-Qur’an
menerangkan dalam surat AnNisaa’:157 bahwa Nabi Isa AS tidaklah dibunuh
maupun disalib oleh orang-orang Kafir. Adapun yang mereka salib adalah
orang yang bentuk dan rupanya diserupakan oleh Allah SWT seperti Nabi
Isa AS (sebagian ulama berpendapat orang yang diserupakan adalah
muridnya yang berkhianat yang bernama Yudas Iskariot) dan karena ucapan
mereka:
“Sesungguhnya kami telah membunuh AlMasih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.
(An Nisaa’ : 157)
“Sesungguhnya kami telah membunuh AlMasih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.
(An Nisaa’ : 157)
Nabi Isa AS diselamatkan oleh Allah SWT dengan jalan diangkat ke langit dan ditempatkan disuatu tempat yang hanya Allah SWT yang tahu tentang hal ini. AlQur’an menjelaskan tentang peristiwa penyelamatan ini. ”Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An Nisaa’ :158)
(Khotib).
-
Kisah Nabi Khidir Alaihissalam
Pada saat
Raja Iskandar Dzul Qarnain pada tahun 322 S. M. berjalan di atas bumi
menuju ke tepi bumi, Allah SWT mewakilkan seorang malaikat yang bernama
Rofa’il untuk mendampingi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Di tengah
perjalanan mereka berbincang-bincang, Raja Iskandar Dzul Qarnain berkata
kepada malaikat Rofa’il: “Wahai malaikat Rofa’il ceritakan kepadaku
tentang ibadah para malaikat di langit ”,
malaikat
Rofa’il berkata, “Ibadah para mailaikat di langit di antaranya ada yang
berdiri tidak mengangkat kepalanya selama-lamanya, dan ada pula yang
rukuk tidak mengangkat kepala selama-lamanya ”.
Kemudian raja berkata, “Alangkah senangnya seandainya aku hidup bertahun-tahun dalam beribadah kepada Allah ”.
Lalu
malaikat Rofa’il berkata, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan sumber
air bumi, namanya ‘Ainul Hayat’ yang berarti, sumber air hidup. Maka
barang siapa yang meminumnya seteguk, maka tidak akan mati sampai hari
kiamat atau sehingga ia mohon kepada Allah agar supaya dimatikan ”.
Kemudianya raja bertanya kepada malaikat Rofa’il, “Apakah kau tahu tempat “Ainun Hayat itu?”.
mailaikat Rofa’il menjawab, “Bahwa sesungguhnya Ainun Hayat itu berada di bumi yang gelap ”.
Setelah
raja mendengar keterangan dari malaikat Rofa’il tentang Ainul hayat,
maka raja segera mengumpulkan ‘Alim Ulama’ pada zaman itu, dan raja
bertanya kepada mereka tentang Ainul Hayat itu, tetapi mereka menjawab,
“Kita tidak tahu khabarnya, namun seoarng yang alim di antara mereka
menjawab, “ Sesungguhnya aku pernah membaca di dalam wasiat nabi Adam
AS, beliau berkata bahwa sesungguhnya Allah meletakkan Ainul Hayat di
bumi yang gelap ”.
“Di manakah tempat bumi gelap itu?” tanya raja.
Seorang yang alim menjawab, “Di tempat keluarnya matahari”.
Kemudian
raja bersiap-siap untuk mendatangi tempat itu, lalu raja bertanya kepada
sahabatnya. “Kuda apa yang sangat tajam penglihatannya di waktu gelap
?”.
Para sahabat menjawab, “Kuda betina yang perawan”.
Kemudian
raja mengumpulkan 1000 ekor kuda betina yang perawan-perawan, lalu raja
memilih-milih di antara tentaranya, sebanyak 6000 orang dipilih yang
cendikiawan dan yang ahli mencambuk.
Di antara
mereka adalah Nabi Khidir AS, bahkan beliau menjabat sebagai Perdana
Menteri. Kemudian berjalanlah mereka dan Nabi Khidir AS berjalan di
depan pasukannya dan mereka jumpai dalam perjalanan, bahwa tempat
keluarnya matahari itu tepat pada arah kiblat.
Kemudian
mereka tidak berhenti-henti menempuh perjalanan dalam waktu 12 tahun,
sehingga sampai ditepi bumi yang gelap itu, ternyata gelapnya itu
memancar seperti asap, bukan seperti gelapnya waktu malam. Kemudian
seorang yang sangat cendikiawan mencegah Raja masuk ke tempat gelap itu
dan tentara-tentaranya, berkata ia kepada raja. ”Wahai Raja,
sesungguhnya raja-raja yang terdahulu tidak ada yang masuk tempat yang
gelap ini karena tempat yang gelap ini berbahaya. ”
Lalu Raja berkata: ” Kita harus memasukinya, tidak boleh tidak.”
Kemudian
ketika Raja hendak masuk, maka meraka semua membiarkannya. Kemudian Raja
berkata kepada pasukannya: ”Diamlah, tunggulah kalian ditempat ini
selama 12 tahun, jika aku bisa datang pada kalian dalam masa 12 tahun
itu, maka kedatanganku dan menunggu kalian termasuk baik, dan jika aku
tidak datang sampai 12 tahun, maka pulanglah kembali ke negeri kalian”.
Kemudian
raja bertanya kepada Malaikat Rofa’il: ” Apabila kita melewati tempat
yang gelap ini, apakah kita dapat melihat kawan-kawan kita ?”.
“Tidak
bisa kelihatan”,jawab malaikat Rofa’il,” akan tetapi aku memberimu
sebuah merjan atau mutiara, jika merjan itu ke atas bumi, maka mutiara
tersebut dapat menjerit dengan suara yang keras, dengan demikian maka
kawan- kawan kalian yang tersesat jalan dapat kembali kepada kalian.”
Kemudian
Raja Iskandar Dzul Qurnain masuk ke tempat yang gelap itu bersama
sekelompok pasukannya, mereka berjalan di tempat yang gelap itu selama
18 hari tidak pernah melihat matahari dan bulan, tidak pernah melihat
malam dan siang, tidak pernah melihat burung dan binatang liar,
sedangkan raja berjalan dengan didampingi oleh Nabi Khidlir AS.
Di saat
mereka berjalan, maka Allah SWT memberi wahyu keapda Nabi Khidlir AS,
”Bahwa sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di sebelah kanan jurang dan
Ainul Hayat ini Aku khususkan untuk kamu ”.
Setelah
Nabi Khidlir menerima wahyu tersebut, kemudian beliau berkata kepada
sahabat-sahabatnya: “ Berhentilah kalian di tempat kalian masing-masing
dan janganlah kalian meninggalkan tempat kalian sehingga aku datang
kepada kalian. ”
Kemudian
beliau berjalan menuju ke sebelah kanan jurang, maka didapatilah oleh
beliau sebuah Ainul Hayat yang dicarinya itu. Kemudian Nabi Khidlir AS
turun dari kudanya dan beliau langsung melepas pakaiannya dan turun ke
“Ainul Hayat” (sumber air kehidupan) tersebut, dan beliau terus mandi
dan minum sumber air kehidupan tersebut, maka dirasakan oleh beliau
airnya lebih manis daripada madu. Setelah beliau mandi dan minum Ainul
hayat tersebut, kemudian beliau keluar dari tempat Ainul Hayat itu terus
menemui Raja Iskandar Dzulkarnain, sedangkan raja tidak tahu apa yang
sedang terjadi pada Nabi Khidlir AS, tentang melihat Ainul Hayat dan mandi.
(Menurut
riwayat yang diceritakan oleh Wahab bin Munabbah), dia berkata, bahwa
Nabi Khidlir AS adalah anak dari bibi Raja Iskandar Dzul Qarnain. Dan
raja Iskandar Dzulkarnain keliling di dalam tempat yang gelap itu selama
40 hari, tiba-tiba tampak oleh Raja sinar seperti kilat, maka terlihat
oleh Raja, bumi yang berpasir merah dan terdengar oleh raja suara
gemercik di bawah kaki kuda, kemudian Raja bertanya kepada Malaikat
Rofa’il: “Gemercik ini adalah suara benda apabila seseorang
mengambilnya, niscaya ia akan menyesal dan apabila tidak mengambilnya,
niscaya ia akan menyesal juga. ”
Kemudian
di antara pasukan ada yang membawanya namun sedikit, setelah mereka
keluar dari tempat yang gelap itu, ternyata bahwa benda tersebut adalah
yakut yang berwarna merah dan jambrut yang berwarna hijau, maka
menyesallah pasukan yang mengambil itu karena mengambilnya hanya
sedikit, demikianlah pula pasukan yang tidak mengambilnya, bahkan lebih
menyesal. Diriwayatkan oleh Ats-tsa’Labi dari: Iman Ali Rodliayllohu ‘
anhu.
1. Cerita ini dikutib dari kitab “
Baidai’iz karangan Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas halaman 166 – 168.
Penerbit: Usaha Keluarga s Semarang.2. Cerita dari Kitab Nuzhatul Majalis Karangan Syeikh Abdul Rohman Ash-Shafuri.
Penerbit Darul Fikri Bairut Halaman 257 – 258.
(Salafy Tobat).
-
Kisah Nabi Idris Alaihissalam
Lalu
keduanya menerusakan perjalanan sampai empat hari lamanya dan selama itu
pula Nabi Idris AS menemukan keanehan yang ada pada Malaikat itu dan
Nabi Idris AS bertanya: ”Hai tuan, kamu ini sebenarnya siapa?”,
Malaikat itu menjawab: ”Saya adalah malaikat pencabut nyawa”. Nabi Idris AS bertanya:” Apakah kamu akan mencabut nyawa manusia?”,
Malaikat menjawab:”Ya”,
Nabi Idris AS bertanya: ”Apakah kamu juga mencabut nyawa selama dalam perjalanan bersama saya?”,
Malaikat
menjawab: ”Ya, saya telah mencabut beberapa nyawa manusia dan
sesungguhnya nyawa manusia itu adalah bagaikan hidangan makanan, sebagai
mana kamu menghadapi sesuap makanan saja”.
Nabi Idris AS berkata: ”Dan apakah kamu datang ini untuk mencabut nyawa saya atau sekedar berkunjung?”,Malaikat menjawab: ”Saya datang hanya untuk berkunjung”,
Nabi Idris AS berkata: ”kalau begitu saya punya hajat kepadamu”,
Malaikat menjawab: ”Hajat apa, hai Nabi Idris?”
Nabi Idris
AS berkata: ”Saya ingin agar kamu mencabut nyawa saya, lalu memohonlah
kepada Allah untuk menghidupkan saya sehingga saya bisa beribadah kepada
Allah sesudah merasakan sakitnya mati”.
Malaikat menjawab: ”Sungguh saya tidak bisa mencabut nyawa seseorang tanpa seijin Allah”.Lalu Allah SWT berfirman kepada Malaikat: ”Cabutlah nyawa Idris!”.
Kemudian
malaikat itu mencabut nyawa Nabi Idris AS dan matilah Nabi Idris AS lalu
Malaikat menangis sambil merendahkan diri untuk memohon kepada Allah
SWT agar menghidupkan Nabi Idris AS kembali, kemudian Allah menghidupkan
Nabi Idris AS, lalu malaikat bertanya: ”Hai Nabi Idris bagaimana
rasanya mati itu?”.
Nabi Idris
AS berkata:”Sungguh rasanya mati itu bagaikan binatang yang dikuliti
dalam keadaan masih hidup, sedang rasa mati itu melebihi 100X lipat rasa
sakit binatang yang dikuliti dalam keadaan masih hidup”.
Malaikat
menjawab:”Hai Nabi Idris, padahal saya mencabut nyawamu itu dengan cara
hati-hati dan sangat halus dan ini belum pernah saya lakukan kepada
siapapun”.
Nabi Idris
AS berkata: ”Saya mempunyai hajat yang lain kepadamu, yaitu ingin
melihat neraka jahannam, agar saat melihat itu saya lebih banyak
beribadah kepada Allah”.
Malaikat
menjawab: ”Sungguh saya tidak bisa masuk neraka jahannam tanpa ada izin
dari Allah”, lalu Allah SWT berfirman kepada Malaikat: ”Pergilah kamu
bersama Nabi Idris ke neraka jahannam”.
Kemudian
malaikat bersama Nabi Idris AS pergi ke neraka jahannam, maka Nabi Idris
AS dapat melihat segala yang dipersiapkan untuk menyiksa di neraka
jahannam, lalu keduanya kembali dari neraka jahannam. Nabi Idris AS
berkata: ”Saya punya hajat lagi kepada kamu, agar kamu mengajakku pergi
ke syurga,dan setelah itu saya akan menjadi hamba yang lebih taat dalam
beragama”.
Malaikat berkata: ”Saya tidak bisa masuk syurga tanpa ada ijin dari Allah”.
Lalu Allah AS berfirman: ”Hai Malaikat pergilah kamu bersama Idris ke syurga”.Malaikat berkata: ”Saya tidak bisa masuk syurga tanpa ada ijin dari Allah”.
Dan
keduanya pergi ke syurga dan berhanti di depan pintu syurga, maka Nabi
Idris AS dapat melihat segala kenikmatan yang ada dalam syurga, melihat
kerajaan yang banyak, melihat anugerah yang banyak dan melihat pepohonan
dan buah-buahan yang beraneka macam ragamnya.
Nabi Idris
berkata: ”Wahai Malaikat, saya telah merasakan mati, telah melihat
segala macam siksaan dalam neraka, lalu mohonlah kepada Allah, agar ia
memberi izin saya masuk ke syurga, sehingga saya dapat minum air syurga
dan sakit saya menjadi hilang serta terhindar dari neraka jahannam”.
Lalu Allah
Berfirman kepada malaikat: ”Masuklah kamu ke syurga bersama Idris”,
kemudian keduanya masuk syurga dan Nabi Idris AS meletakan sandalnya di
bawah salah satu pohon di syurga, dan setelah keluar dari syurga.Nabi
Idris berkata kepada Malaikat: ”Sungguh sandal saya tertinggal di
syurga, maka kembalikan saya ke syurga”, dan
setelah Nabi Idris AS tiba di syurga, Nabi Idris AS tidak mau di ajak
keluar, ia ingin tetap tinggal dalam syurga, hingga Malaikat
berteriak:”Hai Nabi Idris, keluarlah”, dan
Nabi Idris AS tetap tidak mau keluar, dan berkata: ” Karena Allah telah
berfirman”: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…”(Q.Surat
Ali’imran ayat 185), Sedang saya telah merasakan mati.
Dan Allah
Berfirman: “Dan tidak seorangpun darimu, melainkan mendatangi neraka
itu….” (Q.Surat Maryam ayat 71). Dan sungguh saya telah memasuki neraka
jahannam, dan Allah juga berfirman: “…….. dan sekali-kali mereka tidak
akan di keluarkan dari padanya (syurga)”. (Q.Surat AL Hijr ayat 48)”.
Malaikat berkata: ”Lantas siapa yang akan mengeluarkan mu?”.
Lalu Allah
berfirman kapada Malaikat: ”Tinggalkanlah Nabi Idris di syurga, sungguh
Aku telah menetapkannya, bahwa ia termasuk ahli syurga”, kemudian Malaikat itu meninggalkan Nabi Idris AS di syurga dan tetaplah Nabi Idris AS berada dalam syurga untuk selama-lamanya. (Blog Anak Indonesia Timur).
-
Kisah Nabi Ilyas Alaihissalam
Ketika
sedang beristirahat datanglah Malaikat kepada Nabi Ilyas AS, Malaikat
itu datang untuk menjemput ruhnya. Mendengar berita itu, Nabi Ilyas AS
menjadi sedih dan menangis.
“ Mengapa engkau bersedih?” tanya Malaikat maut.“ Tidak tahulah.” Jawab Nabi Ilyas AS.
“Apakah engkau bersedih karena akan meninggalkan dunia dan takut menghadapi maut ?” tanya Malaikat.
“Tidak.
Tiada sesuatu yang aku sesali kecuali karena aku menyesal tidak boleh
lagi berzikir kepada Allah, sementara yang masih hidup boleh terus
berzikir memuji Allah, ” jawab Nabi Ilyas AS.
Saat itu
Allah SWT lantas menurunkan wahyu kepada Malaikat agar menunda
pencabutan nyawa itu dan memberi kesempatan kepada Nabi Ilyas AS
berzikir sesuai dengan permintaannya. Nabi Ilyas AS ingin terus hidup
semata-mata karena ingin berzikir kepada Allah SWT. Maka berzikirlah
Nabi Ilyas AS sepanjang hidupnya.
“ Biarlah dia hidup di taman untuk berbisik dan mengadu serta berzikir kepada-Ku sampai akhir nanti. ” Firman Allah SWT.
Langganan:
Postingan (Atom)